Sensory Seeking vs. Sensory Avoidance
- atelierofminds
- 20 Jul
- 4 menit membaca

Untuk memahami mengapa anak-anak merespons lingkungan sensorik yang sama dengan cara yang sangat berbeda, kita membutuhkan kerangka kerja. Yang paling banyak digunakan dalam terapi okupasi dan psikologi perkembangan adalah Model Pemrosesan Sensorik Winnie Dunn (1997), yang memetakan perilaku sensorik anak di dua sumbu: ambang neurologis (seberapa banyak input yang dibutuhkan sistem saraf sebelum meregistrasi suatu sensasi) dan respons perilaku (apakah anak secara aktif bekerja dengan atau melawan ambang tersebut).
Ini menghasilkan empat pola — dua di antaranya paling banyak dibahas:
Sensory Seeking (Pencarian Stimulasi)
Anak dengan ambang neurologis tinggi membutuhkan jauh lebih banyak input sensorik dibanding rata-rata sebelum sistem sarafnya merespons. Otak pada dasarnya membutuhkan lebih banyak data sebelum dapat memproses sensasi yang masuk sebagai bermakna. Respons perilakunya aktif dan mencari: anak-anak ini berlari padahal bisa berjalan, menyentuh segalanya, mencari kebisingan dan benturan fisik, menabrak orang dan furnitur, berputar dan berayun dalam waktu yang lama, mendambakan makanan dengan tekstur kuat atau rasa intens.
Ini sering disalahartikan sebagai hiperaktivitas, agresivitas, atau impulsivitas — terutama di lingkungan kelas yang secara sengaja meminimalkan stimulasi sensorik. Yang sebenarnya terjadi adalah sistem saraf yang menarik lebih banyak input untuk memenuhi ambangnya sendiri.
Contoh nyata di Jakarta: anak yang tidak bisa duduk diam selama les privat, selalu menggoyang-goyangkan kursi, memukul-mukul meja saat belajar, atau yang "tidak bisa berhenti bergerak" bahkan ketika sedang menonton televisi — seringkali ini bukan anak yang tidak disiplin. Ini anak yang sistem sensoriknya sedang bekerja keras untuk mengumpulkan input yang dibutuhkan.
Sensory Avoidance (Penghindaran Stimulasi)
Anak dengan ambang neurologis rendah meregistrasi input sensorik lebih cepat dan lebih intens dari rata-rata. Bahkan stimulasi ringan sudah melampaui ambang dengan cepat. Respons perilakunya adalah penghindaran aktif: anak-anak ini menghindari keramaian, lingkungan yang berisik, tekstur baru, sentuhan tak terduga, dan aroma yang kuat. Mereka mungkin bersikeras hanya mau memakai baju yang itu-itu saja, menutup telinga di tengah kebisingan yang terdengar biasa, atau menjadi sangat tidak teratur di lingkungan yang tampak tidak bermasalah bagi orang dewasa neurotipikal di sekitarnya.
Pola ini sering dibaca sebagai kecemasan, pembangkangan, atau "anak manja". Mekanisme yang mendasarinya adalah sistem saraf yang melakukan persis apa yang dirancang untuk dilakukan — melindungi individu dari apa yang terdaftar sebagai overstimulasi.
Catatan klinis penting: Model Dunn juga mencakup dua pola pasif — Low Registration (ambang tinggi, respons pasif: anak tidak memperhatikan input yang diperhatikan orang lain) dan Sensory Sensitivity (ambang rendah, respons pasif: anak teralihkan dan tidak nyaman tetapi tidak secara aktif menghindari). Penelitian juga secara konsisten mendokumentasikan bahwa anak-anak — khususnya dengan profil autism atau ADHD — sering hadir dengan profil campuran: mencari dalam satu domain sensorik sekaligus menghindari di domain lainnya (Ben-Sasson et al., 2019; Green et al., 2016). Seorang anak bisa sangat mendambakan input vestibular sambil merasa kontak taktil yang tidak terduga sangat tidak tertahankan.
Seperti Apa Wujudnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Di Sekolah dan Les
Anak yang terus gelisah, mengetuk-ngetukkan pensil, membalutkan kaki ke kaki kursi, dan bersenandung saat mengerjakan PR bukan sedang sengaja mengganggu. Sistem proprioseptif dan auditori mereka mungkin sedang mencari input untuk mempertahankan cukup kesiagaan untuk bisa fokus. Menghilangkan perilaku itu tanpa menyediakan input teratur alternatif biasanya membuat fokus semakin buruk, bukan lebih baik.
Anak yang menutup telinga dengan tangan di kantin sekolah, menolak makan karena bau makanannya terasa menyengat, dan menangis ketika bel berbunyi bukan sedang berlebihan. Sistem taktil, olfaktori, dan auditori mereka meregistrasi input pada intensitas yang tidak dialami sebagian besar teman sekelasnya.
Di Rumah
Anak yang harus dilepas paksa dari ayunan di taman, meminta dipeluk kencang atau dikubur di bawah bantal, dan berlari keliling meja makan sebelum bisa duduk untuk makan malam — sedang melakukan regulasi melalui input proprioseptif dan vestibular. Aktivitasnya bukan masalah — itu adalah solusinya.
Anak yang tidak tahan dengan tekstur pakaian tertentu, menangis ketika rambut dicuci, atau menolak makanan tertentu berdasarkan tekstur bukan sedang memilih-milih atau rewel. Sistem taktil dan interoseptif mereka benar-benar meregistrasi input tersebut sebagai sesuatu yang berat — bukan sebagai pilihan.
Kesenjangan Interosepsi
Anak yang tidak bisa mengidentifikasi bahwa dirinya sedang marah sampai sudah dalam kondisi meltdown bukan sedang "memilih" untuk tidak memberi peringatan. Kesadaran interoseptif mereka tentang tanda-tanda awal emosi yang meningkat — detak jantung yang cepat, ketegangan otot, perubahan pernapasan — mungkin tidak tersedia dengan cukup jelas untuk bisa ditindaklanjuti lebih awal.
Tubuh kita memberikan sinyal emosi sebelum kita menyadarinya secara sadar. Penelitian Quadt, Critchley, dan Garfinkel (2018) dalam Annals of the New York Academy of Sciences mendokumentasikan koefisien korelasi r = 0,59 antara kesadaran interoseptif/proprioseptif dan pemahaman/regulasi emosi — hubungan yang kuat dan bermakna secara klinis.
Sebuah penelitian penting oleh Mahler, Hample, Jones, Sensenig, Thomasco, dan Hilton, diterbitkan dalam Occupational Therapy International tahun 2022, mengukur dampak intervensi berbasis interosepsi selama 25 minggu pada populasi anak autistik di sekolah dan menemukan peningkatan yang terukur dalam kesadaran interoseptif sekaligus hasil regulasi emosi — menetapkan bahwa kapasitas interoseptif dapat dikembangkan melalui praktik yang terarah dan konsisten (Mahler et al., 2022). Studi kelayakan lanjutan dalam setting kelas pendidikan khusus (Mahler et al., 2024, Occupational Therapy in Health Care) mereplikasi temuan ini.
Apa yang Mendukung Regulasi: "Diet Sensorik"
Sebuah konsep OT yang memiliki penerapan praktis kuat bagi orang tua dan pendidik adalah sensory diet — bukan diet makanan, melainkan rutinitas aktivitas sensorik harian yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan sensorik spesifik anak sebelum mereka menjadi disregulasi, bukan setelahnya.
Untuk anak dengan sensory seeking: kesempatan terstruktur dan dapat diprediksi untuk aktivitas proprioseptif berat (membawa, mendorong, memanjat), input vestibular (berayun, melompat), dan tekanan dalam sebelum tugas yang membutuhkan fokus. Untuk anak dengan sensory avoidance: persiapan dan prediktabilitas, zona aman sensorik, paparan bertahap, dan pengakuan bahwa lingkungannya sendiri mungkin perlu dimodifikasi sebelum perilaku anak akan berubah.
Tinjauan AOTA (2023) mengonfirmasi bahwa pendekatan integrasi sensorik yang disampaikan oleh terapis okupasi menunjukkan bukti kuat untuk meningkatkan partisipasi keseharian, regulasi diri, dan kualitas hidup pada anak-anak dengan perbedaan pemrosesan sensorik.
Tujuannya, dalam bahasa klinis, bukan menghilangkan kebutuhan sensorik — melainkan memberi anak bahasa, kesadaran, dan dukungan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara yang memungkinkan mereka berpartisipasi penuh dalam belajar, bermain, dan hubungan. Atelier of Minds is an OT-led, inclusive student care and enrichment centre in South Jakarta for children and young adults. Our team integrates occupational therapy, psychology, and developmental education to support every child's unique sensory and developmental profile.




Komentar